Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts

12 April 2018

Siklon Tropis Indonesia dan Dunia, Asal Usul Nama Dan Penyebabnya

contoh badai siklon tropis
Badai di Lautan

Hallo Ibu Pintar, kali ini kita akan bicara tentang Siklon yang pakai nama unik, yaitu siklon tropis. Apa ya siklon tropis itu? Siklon Tropis adalah badai yang belakangan ini sering terjadi. Apa yang membuatnya berbeda dengan badai yang lainnya adalah karena ia memiliki nama yang unik dan cantik. Nama-nama cantik untuk badai Siklon Tropis inilah yang cukup membuat banyak orang penasaran. Kalau di Indonesia badai menggunakan nama-nama bunga seperti anggrek, cempaka dan dahlia, lain lagi dengan  badai Siklon Tropis di dunia yang menggunakan nama-nama wanita dan laki-laki, seperti Harvey, Irma, dan lainnya.

Di Indonesia
Dua Siklon Tropis yang baru-baru ini terjadi di Indonesia adalah Siklon Tropis Cempaka dan Siklon Tropis Dahlia. Sebelumnya pernah terjadi Siklon Tropis Anggrek pada tahun 2010. Nama-nama bunga ini disepakati dalam penamaan badai tropis di Indonesia sejak terbentuknya pusat peringatan dini Siklon Tropis (Tropic Siclon Warning Center/TSWC) di Jakarta pada 2008. Beberapa nama bunga yang lain juga akan menyusul jika terjadi dan ditemukan Siklon Tropis baru. Seperti yang ada di website resmi milik BMKG, nama-nama tersebut diantaranya: flamboyan, kenanga, lili, manga, seroja dan teratai. Jika kedepannya ditemukan Siklon Tropis lagi maka namanya Siklon Tropis Flamboyan. Nama-nama badai tersebut diurut berdasarkan abjad.
Berdasarkan informasi dari Kepala bagian humas BMKG, Harry Tirto Djatmiko pada rabu malam (29/11). Indonesia dan badan meteorology di seluruh dunia punya kesepakatan dalam pemberian nama badai. Yaitu untuk 'Siklon Tropis' itu sebagai badai, sedangkan 'Cempaka' itu nama badai yang diberikan.
Menurut WMO (World Meteorilogical Organization), nama yang unik dianggap lebih mudah diingat ketimbang angka atau istilah teknis lainnya. BMKG juga menyatakan ada tujuan khusus dalam menamai Siklon Tropis dengan nama bunga. Yakni, agar Siklon Tropis yang sifatnya merusak tidak menjadi sesuatu hal yang buruk.

Di Dunia
Pusat Badai Nasional (NHC) Amerika Serikat (AS) menyatakan sejak tahun 1953 setiap badai tropis Atlantik yang muncul dinamai dari daftar nama yang berasal dari usulan mereka. Nama-nama badai ini dibuat dalam urutan abjad dan merupakan nama-nama perempuan dan laki-laki secara bergantian. Nama- nama badai ini kemudian di pelihara dan diperbarui melalui prosedur yang ketat oleh komite internasional WMO (Organisasi Meteorologi Dunia). Seperti yang kita ketahui Texas yang  di porak-porandakan topan Harvey. Karibia dan Florida diterjang oleh badai Irma dan disusul badai Jose yang mangancam benua Amerika.  Badai Jose bukanlah badai yang terakhir, setelah badai jose akan menyusul badai Katia, Lee, Maria dan badai-badai lainnya. Bagus-bagus ya namanya....

Penyebab Siklon Tropis
Mengetahui penyebab terjadinya Siklon Tropis akan menambah ilmu pengetahuan kita akan alam ini. Mempelajarinya akan membuat kita bisa lebih awas dan siap saat menghadapinya. Secara garis besar penyebab terjadinya siklon tropis adalah sama.
Sebagai contoh di Indonesia Siklon Tropis Dahlia terjadi di bawah garis ekuator wilayah selatan Indonesia. Matahari yang berada di belahan selatan menyebabkan tekanan rendah di sekitar Samudra Hindia. Tekanan rendah itu berbentuk memutar (siklonik). Kondisi ini juga  di tambah dengan pasokan uap air sehingga menjadi sebuah badai. Karena posisinya di wilayah tropis maka disebut Siklon Tropis. Seperti yang di informasikan oleh Fajar Handoyo, BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu.

Nah Ibu Pintar, waspada dan selalu siap untuk menghadapi badai menjadi prioritas kita sekarang. Persiapkan diri dan keluarga kita dengan pengetahuan tentang badai ini, karena Badai bisa datang kapan saja. 

Ratna SMadjid, 12 April 20018

18 February 2018

Laksamana Malahayati, Perempuan Pemberani dari Aceh



Hallo Ibu Pintar, Pada Tanggal 6 November 2017, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk Malahayati. Seorang Laksamana Laut Wanita Pertama di Nusantara, bahkan mungkin di Dunia seperti yang ditulis oleh Endang Moerdopo dalam bukunya Perempuan Keumala (2008).

Aku adalah penyuka sejarah nasional dan sejarah dunia ibu pintar. dan salah satu tokoh yang baru saja aku kenal adalah Laksamana Malahayati. Dulu aku hanya mengenal nama ini sebagai nama salah satu rumah sakit di Medan, karena Bapakku pernah dirawat di sana. Beberapa bulan yang lalu aku menyadari bahwa Laksamana Malahayati merupakan pahlawan dari Aceh. Bersumber dari beberapa website di internet aku mencoba mencari cerita kepahlawanannya, dan ini rangkuman dari apa yang kudapat.

Terlahir dengan nama Keumalahayati, perempuan pemberani ini masih termasuk keluarga inti dari Kerajaan Aceh Darusalam. Ayahnya yang bernama Laksamana Mahmud Syah merupakan keturunan Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530), pendiri Kesultanan Aceh Darussalam (Rusdi Sufi dalam Ismail Sofyan, eds., Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, 1994:30). Malahayati kecil tidak begitu suka bersolek seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Ia lebih menyukai latihan ketangkasan yang kemudian membawanya menjadi panglima perang walaupun ia seorang perempuan. Bakat yang terlahir dari ayah dan kakeknya sebagai laksaman angkatan laut Kesultanan Aceh.
Putri istana berjiwa tentara ini memilih jalur militer sebagai pilihan hidupnya. Ia merupakan lulusan terbaik di Mahad Baitul Makdis, Akademi ketentaraan Kesultanan Aceh Darussalam yang memiliki beberapa instruktur perang dari Turki (Malahayati: Srikandi dari Aceh, 1995:26, karangan Solichin Salam).
Pada saat kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604) Malahayati di tunjuk sebagai Komando Istana Darud-Dunia, Kepala Pengawal sekaligus Panglima Protokol Istana menggantikan suaminya yang gugur saat menghadapi Portugis di Teluk Haru, perairan Malaka. Sultan Alauddin juga mempercayai Malahayati sebagai pucuk pimpinan tertinggi angkatan laut kerajaan dengan pangkat Laksamana, jabatan yang pernah dipegang oleh ayah dan kakeknya.
Pasukan yang dipimpin oleh Malahayati rata-rata didominasi oleh pria. Oleh karena banyaknya janda yang ditinggal mati suaminya dalam perang di Teluk Haru, ia akhirnya membentuk pasukan yang digalang dari kekuatan kaum wanita pemberani yang dikenal dengan nama Inong Balee (Damien Kingsbury, Peace in Aceh, 2006:195). Pasukan Inong Bale berawal dengan 1000 orang anggota, namun kemudian kekuatannya bertambah menjadi 2000. Pangkalan militernya berpusat di Teluk Lamreh Krueng Raya dan di perbukitan yang tak jauh dari pangkalan ia juga membangun benteng sekaligus menara pengawasnya.

Perlawanannya Melawan Penjajah
Pada tanggal 21 Juni 1599, Penjelajah Belanda pimpinan Houtman bersaudara merapat ke dermaga Aceh Darussalam. Dua kapal besar bernama de Leeuw dan de Leeuwin dipimpin masing-masing oleh kapten Frederick dan kapten Cornelis de Houtman. Hubungan para pendatang dari Eropa  dengan rakyat dan Kesultanan Aceh Darussalam awalnya berjalan baik, hingga tingkah beberapa orang belanda disertai provokasi seorang Portugis kepercayaan Sultan Alaudin menimbulkan benih munculnya pertikaian. Sultan Alauddin yang termakan provokasi memerintahkan Laksamana Malahayati menyerbu dua kapal Belanda yang masih bersandar di Selat Malaka.
Pertemburan yang terjadi di tengah laut akhirnya terjadi. Armada Belanda yang tak mampu melawan ketangguhan pasukan Malahayati yang jumlahnya ribuan berhasil dicapai dan terjadilah pertempuran di atas kapal belanda. Duel satu lawan satu pun tak dapat terhindari antara Laksamana Malahayati dan Cornelis de Houtman. Pada satu kesempatan di tengah pertarungan tersebut, Malahayati akhirnya berhasil menikam Cornelis dengan rencongnya hingga tewas. Armada Belanda mengalami cukup banyak kehilangan tentaranya dan akhirnya kalah. Tentara yang tersisa termasuk saudara Cornelis, Frederick de Houtman di jebloskan ke dalam penjara. Peristawa ini dikisahkan kembali oleh Marie van C.Zeggelen (1935) dalam bukunya yang berjudul Oude Glorie.
Selepas pertempuran yang melegenda tersebut tepatnya pada tahun 1640, Laksamana Malahayati meninggal dengan nama besar yang diakui oleh bangsa-bangsa Eropa seperti yang di lansir oleh Fenita Agustina dalam Great Women: Suara Perempuan yang Menginspirasi Dunia (2010,87). Jenazah Pahlawan Nasional ini dikebumikan di kaki Bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.
Kini orang tahu ibu pintar bahwa di Aceh bukan hanya punya Cut Nyak Dien atau Cut Meutia saja, tapi ada perempuan lain yang tidak kalah perkasa sebagai laksamana wanita pertama di Nusantara ini.

Ratna Smadjid, 18 Februari 2018