23 December 2017

Ibu dan Aku Seorang Ibu

Hallo Ibu Pintar, Baru saja kita merayakan hari Ibu. Banyak pro dan kontra dalam merayakannya. Banyak yang setuju tapi ada juga yang tidak. Tapi bagiku, mungkin juga yang lain every day is Mom day, walaupun kebanyakan anak melupakannya. Jadi tak mengapalah kita buat satu hari dalam setahun untuk mengingat Ibu. Istilah satu orang Ibu bisa menjaga sepuluh anak, tapi sepuluh anak tak mampu menjaga seorang Ibu ada benarnya. Apalagi untuk orang yang hanya mengingat Ibu di hari Ibu. Parah memang, tapi ya begitulah anak. Mungkin salah satunya Aku, tapi itu dulu…(ngelessss boleh aja...)
Sekarang Ibu pintar, Aku tahu persis seperti apa rasanya menjadi Ibu, karena Aku juga sudah mempunyai anak. Saat melahirkan Aku jadi tahu sakitnya, juga disaat marah nya, saat sedihnya, saat senangnya dan semuanya tentang perasaan seorang ibu. Sangat complicated perasaan seorang Ibu. Bisa menangis saat bahagia, marah-marah tapi sayang, menutupi sedih dengan senyumnya. Wah komplit  pokoknya. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bayangkan bagaimana bisa kita sedih tapi senyum, yang ada biasanya sedih ya menangis. Berbeda dengan Ibu, dia bisa tersenyum walaupun hatinya hancur lebur. Aku sudah merasakannya, kamu?
Teringat masa kecil ku, saat itu Aku sangat suka mendengar cerita-cerita Ibu. Tentang kelahiranku. Tentang hari pertama Aku sekolah. Lucunya Aku di waktu kecil. Semuanya membuatku tersenyum. Ibu tidak pernah mengeluhkan apapun tentang ku. Teringat saat Aku sakit Ibu menjagaku hingga pagi tanpa terlihat lelah di pagi harinya, padahal saat itu Ibu juga harus menjaga ke 4 kakakku. Apalagi saat menjahitkan baju mengaji pertama ku, Aku senaaaang sekali saat itu mendapati bajuku ada bordir bunga dibagian dadanya. Ibu juga menghadiahkan ku sebuah sepeda, sepeda pertama ku karena biasanya aku hanya menggunakan sepeda kakak-kakakku. 
Hmmm.. yah itulah kenangan ku tentang Ibu. Masih banyak sebenarnya, tapi tak akan cukup waktunya kalo di ceritakan semua.
Selain kenangan indah ada juga kenangan pahit nya. Apalagi kalau bukan saat ibu memarahi ku. Ada aja hal yang membuatnya marah. Telat pulang dimarahi, Kebanyakan nonton juga dimarahi. Parahnya kalo lagi malas makan pun dimarahi. Sepertinya enggak ada hal yang enggak pakai dimarahin. Kadang hal kecil bisa jadi besar, apalagi hal besar bisa seharian marah nya bahkan berminggu-minggu didiamin . Tapi memang benar kata orang-orang kalau kenangan pahit itu malah lebih membekas di hati. Saat sekarang aku sudah menjadi Ibu, aku baru tahu kenapa ibu bisa marah-marah, karena toh sekarang aku mengalaminya sendiri. Tak ada kata atau pun kalimat yang mampu melukiskan hebatnya seorang ibu.

Ibu.
Aku tak mampu menuliskan apapun tentang ibu. Kenangan itu, semua kenangan tentangmu hanya mampu Aku rasakan. Begitu dalam hingga menyentuh sanubari. Tak ada kata atau kalimat yang mampu menuliskan cerita tentangmu.
Teringat lagu di masa kecilku yang sering kunyanyikan bersamamu, menghanyutkanku kembali kemasa lalu.

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.

Ibu adalah Sang Surya, yang selalu menerangiku dalam kegelapan, yang selalu menunjukiku kemana aku harus melangkahkan kaki saat Aku tersesat. Selalu bersinar untuk anak-anak dan keluarganya. Tanpa Sang Surya rumah terasa suram dan sepi. Tanpa Sang Surya tidak ada kebahagiaan di rumah.

Ibu.
Aku belajar darimu tentang arti sebuah kesabaran.
Mengerti tentang arti sebuah pengharapan.
Mampu untuk menerima, memberi dan bekerjasama.
Dan belajar memahami perbedaan.

Ibu.
Kau telah mengambil semua kesombonganku, keangkuhannku.
Kau membuatku tertunduk malu dihadapan Tuhan.
Kau mengajariku banyak hal tentang hidup.

anak yatim palestina yang menggambarkan ibunya
Seandainya Ibu masih hidup. Masih banyak hal yang ingin kuceritakan. 

Ratna SMadjid, 23 Desember 2018