Hallo Ibu Pintar, Baru saja kita merayakan hari Ibu. Banyak pro dan kontra dalam merayakannya.
Banyak yang setuju tapi ada juga yang tidak. Tapi bagiku, mungkin juga yang lain every day is Mom day, walaupun kebanyakan
anak melupakannya. Jadi tak mengapalah kita buat satu hari dalam setahun untuk
mengingat Ibu. Istilah satu orang Ibu bisa menjaga sepuluh anak, tapi sepuluh
anak tak mampu menjaga seorang Ibu ada benarnya. Apalagi untuk orang yang
hanya mengingat Ibu di hari Ibu. Parah memang, tapi ya begitulah anak. Mungkin
salah satunya Aku, tapi itu dulu…(ngelessss boleh aja...)
Sekarang Ibu pintar, Aku tahu persis seperti apa rasanya menjadi Ibu, karena Aku juga sudah
mempunyai anak. Saat melahirkan Aku jadi tahu sakitnya, juga disaat marah nya, saat sedihnya,
saat senangnya dan semuanya tentang perasaan seorang ibu. Sangat complicated perasaan seorang Ibu. Bisa menangis saat bahagia,
marah-marah tapi sayang, menutupi sedih dengan senyumnya. Wah komplit pokoknya. Tak dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Bayangkan bagaimana bisa kita sedih tapi senyum, yang ada biasanya
sedih ya menangis. Berbeda dengan Ibu, dia bisa tersenyum walaupun hatinya hancur
lebur. Aku sudah merasakannya, kamu?
Teringat
masa kecil ku, saat itu Aku sangat suka mendengar cerita-cerita Ibu. Tentang
kelahiranku. Tentang hari pertama Aku sekolah. Lucunya Aku di waktu kecil.
Semuanya membuatku tersenyum. Ibu tidak pernah mengeluhkan apapun tentang ku.
Teringat saat Aku sakit Ibu menjagaku hingga pagi tanpa terlihat lelah di pagi
harinya, padahal saat itu Ibu juga harus menjaga ke 4 kakakku. Apalagi saat menjahitkan
baju mengaji pertama ku, Aku senaaaang sekali saat itu mendapati bajuku ada bordir
bunga dibagian dadanya. Ibu juga menghadiahkan ku sebuah sepeda, sepeda
pertama ku karena biasanya aku hanya menggunakan sepeda kakak-kakakku.
Hmmm..
yah itulah kenangan ku tentang Ibu. Masih banyak sebenarnya, tapi tak akan cukup
waktunya kalo di ceritakan semua.
Selain
kenangan indah ada juga kenangan pahit nya. Apalagi kalau bukan saat ibu memarahi ku.
Ada aja hal yang membuatnya marah. Telat pulang dimarahi, Kebanyakan nonton
juga dimarahi. Parahnya kalo lagi malas makan pun dimarahi. Sepertinya enggak ada hal yang enggak pakai dimarahin. Kadang hal kecil bisa jadi besar, apalagi hal besar bisa seharian
marah nya bahkan berminggu-minggu didiamin . Tapi memang benar kata orang-orang kalau kenangan pahit itu malah
lebih membekas di hati. Saat sekarang aku sudah menjadi Ibu, aku baru tahu
kenapa ibu bisa marah-marah, karena toh sekarang aku mengalaminya sendiri. Tak
ada kata atau pun kalimat yang mampu melukiskan hebatnya seorang ibu.
Ibu.
Aku
tak mampu menuliskan apapun tentang ibu. Kenangan itu, semua kenangan tentangmu
hanya mampu Aku rasakan. Begitu dalam hingga menyentuh sanubari. Tak ada kata
atau kalimat yang mampu menuliskan cerita tentangmu.
Teringat
lagu di masa kecilku yang sering kunyanyikan bersamamu, menghanyutkanku kembali
kemasa lalu.
Kasih
ibu kepada beta
Tak
terhingga sepanjang masa
Hanya
memberi tak harap kembali
Bagai
sang surya menyinari dunia.
Ibu
adalah Sang Surya, yang selalu menerangiku dalam kegelapan, yang selalu menunjukiku
kemana aku harus melangkahkan kaki saat Aku tersesat. Selalu bersinar untuk
anak-anak dan keluarganya. Tanpa Sang Surya rumah terasa suram dan sepi. Tanpa
Sang Surya tidak ada kebahagiaan di rumah.
Ibu.
Aku
belajar darimu tentang arti sebuah kesabaran.
Mengerti
tentang arti sebuah pengharapan.
Mampu
untuk menerima, memberi dan bekerjasama.
Dan
belajar memahami perbedaan.
Ibu.
Kau
telah mengambil semua kesombonganku, keangkuhannku.
Kau
membuatku tertunduk malu dihadapan Tuhan.
Kau
mengajariku banyak hal tentang hidup.
